Rumah Kura-kura

-created by Tanti

Sore itu cuaca di sekitar hutan cukup cerah, dibalik pepohonan terlihat seekor binatang yang sedang berjalan menyusuri setapak di sela-sela pohon yang rimbun. Ia adalah seekor kura-kura yang sedang mencari tempat untuk tinggal. Dari arah berlawanan, datanglah seekor kelinci “Hai kura-kura, kau mau pergi kemana?” sapa kelinci dengan ramah. Mendengar sapaan kelinci, kura-kura pun menghentikan langkahnya dan mendongakkan kepalanya karena kelinci jauh lebih tinggi dari kura-kura, “halo kelinci, aku sedang mencari tempat yang bisa kutinggali” jawab kura-kura. Kelinci sedikit bingung dan kembali mengajukan pertanyaan “memang kenapa dengan tempat tinggal mu yang lama?”. Kura-kura menundukkan kepalanya dengan lemas dan menjawab dengan nada sedih “biasanya aku tinggal di pinggir sungai, tetapi saat ini air sungai meluap sehingga tempat tinggalku terendam air”. Kelinci pun menepuk tempurung kura-kura “tak usah bersedih kura-kura, bagaimana kalau kamu tinggal dirumahku saja, lubangku masih cukup luas untuk menampung seekor hewan lagi”. Kura-kura memandang kelinci dengan ragu “apakah benar aku boleh menumpang? Alangkah senangnya hatiku, kelinci. Aku tak perlu lagi berkeliling hutan”. Kelinci pun tersenyum dan menganggukkan kepalanya.

Continue reading

Advertisements

Rawel sang Penyembuh

Rawel sang Penyembuh

Di suatu desa, hiduplah sebuah keluarga yang terdiri dari ibu, ayah dan seorang gadis kecil bernama Radelia. Ibu Radelia adalah seorang pemetik apel, sedangkan sang ayah adalah penebang kayu yang memiliki penghasilan tak seberapa.

Suatu hari yang cerah, ketika Radelia sedang membersihkan rumah, ia mendengar keributan yang semakin lama terdengar semakin mendekat. Tak lama kemudian, pintu rumah yang hanya terbuat dari bambu tua itu terbuka dengan keras diikuti kerumunan penebang kayu yang masuk ke dalam rumah dengan tergesa-gesa. Ditengah kerumunan itu, ia melihat beberapa orang sedang membopong sang ayah. “Ayah! Ayah! Apa yang terjadi?” dengan cemas radelia mendekati ayahnya, dan seketika itu juga Radelia mengetahui jawabannya. Sesuatu telah mengoyak kaki sang ayah, darah tak henti-hentinya mengalir dari kaki kanannya. Sambil menahan tangis Radelia bertanya pada salah satu penebang kayu apa yang terjadi dengan kaki sang ayah. Penebang kayu itu menceritakan bahwa ayah Radelia mencari kayu terlalu jauh kedalam hutan sehingga tak menyadari bahwa ia mendekati sarang serigala. Kawanan serigala itu merasa terancam dengan kedatangan ayah Radelia, sehingga mereka mencoba menerkam ayah Radelia. Ketika teriakannya terdengar oleh salah satu penebang kayu, dengan segera mereka mencari sumber suara dan mengusir serigala itu. Tapi sayang, serigala itu sebelumnya telah melukai kaki sang ayah. Radelia sangat berterimakasih kepada para penebang kayu yang telah menyelamatkan sang ayah. Continue reading

I’ve Got Your Number

Horeee horeee buku baru dari Sophie Kinsella!!!

photoini buku superrrrr romatisss dan superrrr bikinnnn pengen jadi pemeran utamanya hehehe..romantisnya itu bukan romantis yang berlebihan, tapi yang sweet ,ihihihihi,,emang mba Sophie ini bisa banget bikin cerita ya, saya selalu suka deh sama buku-buku nya..

buku yang ini ceritanya tentang pertemuan yang tidak terduga antara 2 orang yang bener-bener gak saling kenal, yang dipertemukan oleh satu telepon genggam..

si cewe udah mau nikah,sedangkan si cowo adalah semacem eksekutif muda yang bertangan dingin. gara2 si cewe nemu sebuah handphone di tempat sampah, sejak itu si cewe jadi punya dua kerjaan, kerjaan yang dia lakukan secara sukarela..

dan seperti biasa, cewe yang digambarkan sama mba Sophie ini berkelakuan bodoh, masa iya bisa careless gitu ngilangin cincin tunangannya yang berbatu zamrud antik..

kamu harussss baca buku ini reader, super sweet! entah ya, abis baca buku ini rasa2nya saya ingin cari lampu aladin buat gosok-gosok dan minta satuu aja permintaan ‘saya mauuu jadi pemeran utamanya’hahaha. untuk yang berkehidupan percintaan yang minim romantisme, mungkin buku ini bisa mengisi kekurangan romantisme dalam hidup kamu itu 😛

Kereta Tak Berujung

“BRAKK” lagi lagi pintu depan dibanting oleh Simon, lalu terdengar suara teriakan marah ibunya dari arah dapur. Setiap hari setelah pulang sekolah, tanpa berganti baju, tanpa bersih-bersih, tanpa makan siang, Simon selalu lanjut pergi bermain tanpa izin sang ibu. Kemanakah Simon pergi?

Simon pergi ke bekas stasiun kereta. Dahulu stasiun ini dipergunakan untuk kereta antar kota. Akan tetapi, stasiun ini dipindah lokasi ke tempat yang baru karena tempat ini terlalu sempit. Saat ini stasiun dibiarkan terbengkalai, terkadang tampak beberapa pemulung berkumpul disana, tapi terkadang tidak ada seorang pun yang muncul disana.

Simon sangat menyukai cerita detektif, ia selalu berkhayal menjadi seorang detektif yang menemukan harta karun, penyimpanan barang curian, ataupun lorong-lorong tersembunyi. Karena itulah, Simon senang sekali bermain di stasiun lama ini. Ia menyusuri lorong-lorong stasiun, berusaha mencari pintu-pintu rahasia. Menjelang malam setelah puas bermain barulah Simon pulang ke rumah. Ia selalu disambut oleh kemarahan sang ibu, bahkan seringkali ibunya memberikan hukuman-hukuman seperti dilarang keluar rumah selama dua hari, lima hari bahkan seminggu. Tetapi Simon selalu menemukan celah untuk menyelinap keluar dan kembali ke stasiun. Continue reading

Rumput Kecil yang Hebat

Pagi itu matahari bersinar sangat terang,cukup membuat Flava terbangun dan kembali menegakkan daunnya. “Selamat pagi, Flava” kecupan daun pagi sang ibu membuat Flava benar-benar terbangun. “Selamat pagi, Ibu” jawab Flava sambil menguap. Flava adalah rumput kecil, ia tumbuh tepat di lapangan rumput di samping ibunya yang sudah memiliki daun yang rimbun dan akar yang kuat.

Tepat di depan mereka adalah setapak kosong, tidak ada rumput yang tumbuh disana, setiap hari Flava selalu memandangi jalan setapak itu dan selalu berpikir mengapa mereka tidak tinggal disana, padahal disana begitu luas dan tanahnya pun terlihat begitu subur.” Ibu, mengapa kita tidak pindah ke setapak sana? disana lebih luas, aku pasti akan tumbuh dengan hebat!!” Tanya Flava dengan besar kepala. Ibu hanya menggeleng dan menjawab “tidak nak, tempat itu bukan tempat yang aman untuk rumput hidup”. Flava sangat kecewa sekali dengan jawaban sang Ibu, karena walaupun Flava masih kecil,ia tahu bahwa tempat itu lebih luas, makanan yang tersedia di tanah pun lebih banyak, selain itu mereka tidak akan berebut air hujan untuk minum dengan rumput-rumput tetangga. Dan kembali Flava membayangkan dirinya tumbuh menjadi rumput paling hijau dan paling rimbun dari semua rumput disana, Flava akan tampak hebat! Setiap hari Flava kembali bertanya hal yang sama kepada ibunya, dan kembali mendapat jawaban yang sama. Flava kesal sekali karena ibunya tidak mau pindah ke tempat luas di depan sana.

Hari-hari Flava habiskan dengan memandangi setapak luas itu dan memikirkan bagaimana cara agar sang Ibu mau pindah kesana. Sampai akhirnya Flava memutuskan untuk pindah sendiri walau ibu tidak mengizinkan. Akan tetapi sesaat kemudian Flava kembali meragu, karena tentu saja ibu akan menahannya untuk pindah. Flava kembali berpikir keras, dan mendapat ide untuk berpindah di malam hari ketika sang ibu sudah tidur.

Malam yang dinanti Flava pun tiba, bulan sedang bersinar terang diatas sana. Flava memandang ibunya yang sedang tidur lelap, lalu bergerak sepelan mungkin menaikan akarnya, karena akarnya belum terlalu besar, Flava dapat menariknya dengan mudah. Satu demi satu akarnya naik keatas tanah, kemudian sedikit demi sedikit ia bergeser ke arah setapak yang lapang. Setelah sampai di tempat yang dia rasa sudah cukup enak, Flava kembali memasukkan akarnya ke dalam tanah. Tanahnya terasa segar sekali dan begitu subur “aku akan tumbuh dengan hebat jika aku tinggal disini, akan aku buktikan kepada Ibu bahwa rumput bisa hidup disini!” lalu Flava pun kembali tertidur.

Continue reading

Benda kecil Nandia

 

“Nandiaaaaaaaaa” suara Mama menggelegar dari kamarnya. Nandia segera berlari ke arah kebun dan bersembunyi dibalik kursi taman. Terdengar suara langkah kaki Mama keluar rumah menuju kursi taman. “Sudah berapa kali Mama bilang, Nandia. Jangan bermain-main dengan barang-barang Mama apalagi alat make up Mama! Lihat ini lipstick dan eyeshadow Mama hancur lebur. Ini bukan mainan!!” Nandia hanya diam dan tertunduk.

Keesokan harinya, Nandia mengendap-endap ke kamar Mama nya. Ia membuka kotak putih mengkilap yang berisi berbagai macam peralatan make up dan memandang takjub pada semua barang yang tertata rapi didalamnya. Tiba-tiba ia teringat ucapan Mama kemarin sore, segera ia tutup kembali kotak cantik itu. Sesaat ia ragu, Nandia membuka kembali kotak itu dan mengambil sebuah lipstik hitam mengkilap dengan tutup berwarna emas, seperti tersihir oleh benda itu, Nandia mengambilnya dan berlari ke kamarnya setelah menutup kotak makeup tersebut. Continue reading

Tikus berkaus kaki

“selesai!” sahut Lola. Lola akhirnya telah selesai mengeluarkan semua boneka-boneka kecilnya. Beruang, bebek, kelinci, gajah, kucing, anjing, dan  monyet. Semua boneka itu ditatanya diatas tempat tidur dengan rapi. Setelah selesai mebereskan barang-barangnya, Lola turun ke dapur dimana sang ibu telah menunggunya untuk makan.

Ibu, ayah dan Lola makan bersama di meja makan kecil di rumah baru mereka. Hari ini adalah hari kedua mereka menempati rumah baru. Rumah yang memiliki 2 kamar tidur dan 2 kamar mandi itu mereka pilih karena berdekatan dengan tempat kerja sang ayah. Continue reading

Landak

Ada dua ekor landak,,untuk menghangatkan diri di musim dingin, mereka mencoba berdekatan satu sama lain,,

Tapi, dengan adanya duri di badan mereka, membuat mereka tergores,,

Jadi daripada saling melukai, maka mereka berpikir sebaiknya berpisah,,kali ini mereka jadi terlalu jauh,,satu sama lain hanya berpikir kalo mereka kedinginan,,dan mereka ngga tau gimana cara untuk mendekat,,

landak

Tetapi pada akhirnya mereka menemukan jarak yang pas ssupaya mereka bisa berdekatan =)