Rawel sang Penyembuh

Rawel sang Penyembuh

Di suatu desa, hiduplah sebuah keluarga yang terdiri dari ibu, ayah dan seorang gadis kecil bernama Radelia. Ibu Radelia adalah seorang pemetik apel, sedangkan sang ayah adalah penebang kayu yang memiliki penghasilan tak seberapa.

Suatu hari yang cerah, ketika Radelia sedang membersihkan rumah, ia mendengar keributan yang semakin lama terdengar semakin mendekat. Tak lama kemudian, pintu rumah yang hanya terbuat dari bambu tua itu terbuka dengan keras diikuti kerumunan penebang kayu yang masuk ke dalam rumah dengan tergesa-gesa. Ditengah kerumunan itu, ia melihat beberapa orang sedang membopong sang ayah. “Ayah! Ayah! Apa yang terjadi?” dengan cemas radelia mendekati ayahnya, dan seketika itu juga Radelia mengetahui jawabannya. Sesuatu telah mengoyak kaki sang ayah, darah tak henti-hentinya mengalir dari kaki kanannya. Sambil menahan tangis Radelia bertanya pada salah satu penebang kayu apa yang terjadi dengan kaki sang ayah. Penebang kayu itu menceritakan bahwa ayah Radelia mencari kayu terlalu jauh kedalam hutan sehingga tak menyadari bahwa ia mendekati sarang serigala. Kawanan serigala itu merasa terancam dengan kedatangan ayah Radelia, sehingga mereka mencoba menerkam ayah Radelia. Ketika teriakannya terdengar oleh salah satu penebang kayu, dengan segera mereka mencari sumber suara dan mengusir serigala itu. Tapi sayang, serigala itu sebelumnya telah melukai kaki sang ayah. Radelia sangat berterimakasih kepada para penebang kayu yang telah menyelamatkan sang ayah.

Radelia pun mencoba membersihkan luka sang ayah dengan alat seadanya, setelah terlihat sedikit bersih ia pergi ke kebun apel untuk memberitahu ibu tentang apa yang telah terjadi. Mendengar kabar buruk itu, Ibu segera meninggalkan pekerjaannya dan berlari pulang ke rumah bersama Radelia. Ibu mencoba mengobati luka sang ayah dengan daun-daun obat yang mereka punya.

Beberapa hari telah berlalu tapi keadaan sang ayah tak juga membaik bahkan sekarang ia terserang demam tinggi. Ibu dan radelia sangat sedih dan bingung karena di desa mereka tidak ada dokter maupun tabib, satu-satunya penyembuh yang ada hanyalah Rawel sang peramu. Rawel terkenal bukan sebagai orang yang baik, sehingga sangat jarang sekali orang mau meminta bantuan Rawel kecuali sangat terdesak. Dan kali ini sang ibu memutuskan untuk meminta bantuan Rawel karena keadaan ayah semakin hari semakin parah.

Keesokan harinya ibu tidak pergi bekerja memetik apel, ia menuju tempat Rawel tinggal yang menurut orang-orang desa berada di tepi hutan. Tidak ada yang tau dengan pasti dimana Rawel tinggal, sehingga sang ibu mencoba memanggil nama Rawel berkali-kali berharap Rawel mendengarnya. Dan ternyata Rawel memang mendengarnya. “berisik sekali ibu tua ini mengganggu tidur siang ku!” teriak rawel tiba-tiba dari belakang ibu. Ibu yang tak menyadari kedatangan Rawel pun membeku sekejap karena kaget, tapi ibu dengan cepat menguasai dirinya kembali. “Rawel, aku memerlukan bantuan mu. Suamiku sudah berhari-hari sakit, tidak ada satupun daun obat yang dapat menyembuhkan kakinya” sahut ibu. Rawel memutar bola matanya dan mengacak-acak rambut kotornya yang panjang,”Aku tau apa pekerjaanmu ibu tua. Kalian adalah keluarga miskin, aku tak yakin kamu mampu membayarku. Apa yang bisa kamu tawarkan untukku?” tanya Rawel dengan sinis. Setelah berpikir sejenak, ibu pun berkata “akan kuberikan setengah dari pembayaranku memetik apel selama satu tahun” jawab ibu. Rawel berpikir sejenak, ia duduk diatas batu dan menyilangkan tungkai kurus dibawah jubah biru kumalnya “bukan suatu tawaran yang menggiurkan, tapi baiklah jika kamu menaikkan tawaran menjadi dua tahun mungkin aku akan mempertimbangkannya” sahut rawel. Ibu pun pulang tanpa kepastian apakah Rawel akhirnya mau menerima tawarannya atau tidak.

Ternyata senja itu rawel datang ke rumah Radelia. Tanpa banyak bicara, rawel langsung mendekati dipan bambu tempat sang ayah tertidur tak jauh dari pintu. Rawel mengeluarkan ramuan-ramuan dari tas kumalnya yang sedari tadi masih tergantung di punggungnya. Radelia yang baru pulang mengambil air melihat sang ibu yang masih mematung di dekat pintu karena Rawel tidak mengijinkannya untuk mendekat ketika ia sedang mengobati ayah. “Apakah wanita kumal itu adalah Rawel, Ibu?” Tanya Radelia dengan berbisik. Ibu pun mengiyakan dengan anggukan.

Pengobatan rawel tidak memakan waktu lama.  “selesai, suamimu akan pulih dalam beberapa hari” sahut rawel dalam suara seraknya. Ibu pun berterimakasih dan berjanji akan mengantar bayarannya setiap hari sepulang ia memetik apel. Tetapi omongan ibu terpotong oleh suara keras Rawel “tunggu dulu!!” sela rawel. “aku tidak bilang kalau aku setuju dibayar dengan upah kecilmu yang tidak seberapa itu. Aku mau gadis kecil itu!!” tunjuk rawel kearah Radelia. Ibu pun menutupi radelia dengan badannya, akan tetapi Rawel bergerak dengan lebih cepat, ditariknya Radelia ke tengah ruangan “aku mau gadis kecil ini atau suamimu kukembalikan kepada penderitaannya” tegas Rawel. “tidak Rawel, jangan ambil anakku” isak sang ibu. “aku tidak perlu uangmu ibu tua! Gadis kecil ini lebih berguna daripada uangmu yang sedikit itu!” sahut Rawel sambil menggiring radelia. Radelia adalah anak yang pemberani, ia tidak takut apapun dan diatas segalanya, ia sangat menyayangi ayah dan ibunya “tidak apa ibu, yang penting ayah akan kembali sehat. Hai penyihir tua, aku akan ikut denganmu tapi jika aku bisa kembali ke rumahku sendiri tanpa sepengetahuanmu, kamu harus melepaskan aku” ucap radelia. Rawel pun berpikir membiarkan radelia berbicara dengan ibu. Sambil memeluk ibunya, Radelia pun berbisik “ibu, aku akan baik-baik saja. Aku akan mencari segala cara untuk pulang. Jangan khawatirkan aku”. Ibu tak juga melepaskan pelukan Radelia sampai akhirnya Rawel menarik Radelia dengan paksa “baiklah gadis kecil, kau boleh bebas berangan-angan untuk melarikan diri karena aku tau itu tidak mungkin terjadi” dan Rawel pun membawanya pergi.
Rawel membawa Radelia ke tepi hutan, tepatnya ke atas pohon yang sangat besar. Di dalam pohon besar itulah Rawel tinggal selama ini. Rawel menempatkan Radelia di lantai paling atas yang hanya memiliki satu jendela. Radelia mendapat tugas menyiapkan bahan-bahan mentah ramuan yang Rawel minta, seperti memisahkan lebah dengan madunya, memotong daging yang ia tak tahu daging apa itu dan radelia memilih untuk tidak mau tahu. Radelia hanya melakukan tugasnya dengan baik agar Rawel tidak marah dan tetap memberinya makanan walau hanya mie buatan Rawel sendiri yang sulit sekali di gigit dan rasanya sangat tidak enak.

Hari berganti hari, tak henti-hentinya Radelia memikirkan cara untuk keluar dari kamar kecil tempat ia dikurung akan tetapi belum ada sedikitpun celah untuk melarikan diri. Rawel tidak pernah membuka pintu kamar Radelia, makanan dan bahan ramuan ia masukan melalu celah kecil di pintu. Sedangkan untuk mandi dan pembuangan air, Radelia disediakan kamar mandi kecil yang hanya sebesar lemari sapu. Satu-satunya jalan keluar adalah jendela di atap yang jaraknya terlalu tinggi dari tanah sehingga tidak memungkinkan untuk Radelia untuk lompat tanpa kehilangan nyawanya.
Semakin hari, Radelia semakin putus asa. Radelia merasa sangat sedih sekali menghadapi kenyataan tidak dapat bertemu ibu dan ayahnya lagi, ia hanya memandangi jendela sambil memakan makan siangnya yang berupa mie rebus tanpa bumbu. Membutuhkan waktu yang lama untuk  dapat mengunyahnya karena teksturnya yang sangat kenyal dan keras.  Radelia hanya mampu memakan sedikit mie nya dan kuah mie. Tiba-tiba Radelia berpikir, “ya! Mie itu! Kenapa aku baru terpikir sekarang, mie itu dapat memnbantuku! aku harus menjalin mie karet itu menjadi sebuah tali” gumam radelia dengan mata berbinar-binar. Maka dimulailah pengumpulan mie oleh Radelia setiap hari, sedikit mie ia makan untuk dapat bertahan hidup selebihnya ia jalin sebagai tambang dan dikeringkan dibawah matahari. Hari demi hari berlalu tanpa terasa tali mie yang Radelia buat sudah sangat panjang. Dengan hati-hati radelia mencoba membuka jendela di atap dan menalikan tali mie nya ke daun jendela yang tidak berkaca itu. Tali berhasil menggantung dengan sempurna sampai ke tanah. Radelia kembali memasukan ujung talinya ke dalam kamar karena hari masih terlalu sore, ia takut Rawel melihatnya.

Malam yang ditunggu radelia pun tiba, Radelia menunggu Rawel pergi setelah ia membawakan makan malam yang tentu saja berupa mie dan bahan ramuan yang harus ia kerjakan. Tanpa bersuara, Radelia menyusun kursi diatas meja dan menumpuk beberapa buku untuk dijadikan pijakan hingga ia kembali dapat menggapai jendela. Pelan-pelan ia turunkan tali ke tanah, sedikit-sedikit Radelia mulai memijakkan kakinya ke atas atap dan menuruni atap dan dinding dengan berpegang pada tali. Ketika beberapa jengkal lagi menuju tanah, ternyata tali mie itu tidak cukup kuat menahan beban Radelia terlalu lama. Tali mie itu pun terputus dan membuat tubuh Radelia jatuh berdebam keatas semak-semak yang menimbulkan bunyik gemerisik yang amat sangat. Dengan gemetar Radelia mencoba untuk tak bergerak sedikit pun walau beberapa tangkai dahan menusuk-nusuk kakinya, ia takut Rawel melihatnya karena sejak bunyi jatuhnya ke semak-semak, lampu kamar Rawel yang berada tidak jauh dari semak-semak menyala dan rawel membuka jendelanya untuk melihat ada apa diluar. Waktu terasa berjalan sangat lama bagi Radelia sampai akhirnya bunyi jendela kamar Rawel ditutup pun terdengar. Dengan sangat pelan, Radelia membebaskan kakinya  yang tersangkut dahan. Dan ia pun mengendap-endap keluar dari semak-semak dan berlari ke jalan setapak di dalam hutan. Radelia masih dapat meraba-raba ingatan tentang jalan setapak itu karena beberapa kali ia pernah ikut sang ayah untuk menebang kayu melalui jalan-jalan itu.

Radelia terus berlari tanpa memperdulikan kakinya yang semakin luka karena menginjak batu-batu kecil, ia tak sabar ingin bertemu sang ibu dan ayah. Akhirnya dari kejauhan, ia melihat rumah dengan pintu dan jendela yang sangat ia kenal. Radelia pun berlari semakin kencang dan mengetuk pintu dengan keras “ibu! Ayah!!aku pulang!” teriak Radelia. Lampu dalam rumah pun menyala, dan terdengar kunci pintu dibuka dari dalam. Tak sabar Radelia kembali berteriak “Ibu, ayah, ini aku Radelia, aku telah melarikan diri dari Rawel!” ketika akhirnya pintu depan terbuka dengan pelan, Radelia pun menjerit “tidaakkk, me-me-ngapa kau ada disini”. Rawel pun terkekeh “kau pikir aku mudah ditipu, anak bodoh! Apakah kau pikir, kau mengenal jalan setapak dihutan ini dengan baik?!” Radelia yang masih kebingungan dan ketakutan pun menjerit “Lalu dimana ibu dan ayahku, kau apakan mereka Rawel!”. Rawel kembali terkekeh “kau benar-benar anak gadis yang bodoh, lihat baik-baik apakah ini rumah ayah dan ibumu?!” Radelia pun memandang sekeliling, pintu dan jendela nya memang sama seperti rumahnya akan tetapi sisi dalam rumah itu sama sekali berbeda. Rawel pun menarik Radelia keluar dan dipaksanya Radelia melihat sisi samping rumah itu, “Lihat, gadis bodoh! Ini adalah belakang rumahku yang kubentuk menyerupai rumah ibumu. Kau hanya berputar berkeliling hutan dan kembali ke tempat yang sama di sisi yang berbeda. Aku tau suatu saat kau akan mencoba kabur dariku, karena itu akan memasang perangkap ini sudah sejak lama” Rawel pun kembali menarik Radelia dan menyekapnya kembali dikamarnya. Jendela Radelia kini telah ditutup dengan papan kayu sehingga hanya nampak celah kecil di atap. “Tidak ada lagi jalan untuk kabur, kamu akan menemaniku selalu disini gadis kecil,,selamanya!!” ucap rawel sambil terkekeh-kekeh dan menutup pintu kayu itu meninggalkan Radelia menangis.

created by Tanti

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s