Keranjang putih beruang

Disebuah tempat yang cukup terpencil tinggalah seekor beruang dan beberapa binatang. Mereka tinggal di tempat terpencil itu karena tempat itu sangatlah indah walaupun dengan demikian berarti mereka harus menempuh 4 jam perjalanan untuk sampai ke desa yang menjual bahan makanan.

Di suatu pagi yang cerah, “ARGHHHH!” tiba-tiba terdengar teriakan menggelegar dari sebuah rumah kayu . Ternyata itu adalah teriakan beruang. Ada apa gerangan dirumah beruang? Ternyata ia baru tau bahwa semua persediaan makanannya habis tak tersisa sedikit pun ketika akan menyiapkan sarapan. Ia lupa mengecek persediaan karena beberapa hari ini ia selalu makan makanan yang ada di meja. Terpaksa beruang harus menempuh perjalanan ke desa untuk membeli makanan. Akan tetapi baru berjalan sampai teras rumahnya tiba-tiba ia terjatuh “huhuhu bagaimana ini, aku terlalu lemas untuk berjalan. Aku sangat lapar sekali” keluh beruang sedikit tersedu -sedu.

Beruang semakin merebahkan diri di teras sambil menatap kosong ke Arah langit karena merasa tak mampu melakukan apa-apa lagi. Tak lama kemudian seekor burung yang sedari tadi terbang berputar diatas rumahnya pun turun dan bertanya “hei beruang sedang apa kamu? kulihat sedari tadi kamu hanya tiduran di lantai dan melamun”. Beruang pun menjawab tanpa bergerak dari posisinya “hai burung, Aku kehabisan persediaan makanan. Dan aku terlalu lemas untuk menempuh perjalanan ke desa. Aku hanya mampu merebahkan diri disini”. Mendengar jawaban beruang, burung pun hanya menggeleng lalu berkata “lalu kamu menyerah? Kamu akan tiduran disini sampai nanti kamu mati kelaparan? Kupikir kamu jauh lebih pintar dari itu beruang” selesai berkata itu burung pun pergi tanpa menoleh sedikit pun.

Continue reading

Advertisements

Rumah Kura-kura

-created by Tanti

Sore itu cuaca di sekitar hutan cukup cerah, dibalik pepohonan terlihat seekor binatang yang sedang berjalan menyusuri setapak di sela-sela pohon yang rimbun. Ia adalah seekor kura-kura yang sedang mencari tempat untuk tinggal. Dari arah berlawanan, datanglah seekor kelinci “Hai kura-kura, kau mau pergi kemana?” sapa kelinci dengan ramah. Mendengar sapaan kelinci, kura-kura pun menghentikan langkahnya dan mendongakkan kepalanya karena kelinci jauh lebih tinggi dari kura-kura, “halo kelinci, aku sedang mencari tempat yang bisa kutinggali” jawab kura-kura. Kelinci sedikit bingung dan kembali mengajukan pertanyaan “memang kenapa dengan tempat tinggal mu yang lama?”. Kura-kura menundukkan kepalanya dengan lemas dan menjawab dengan nada sedih “biasanya aku tinggal di pinggir sungai, tetapi saat ini air sungai meluap sehingga tempat tinggalku terendam air”. Kelinci pun menepuk tempurung kura-kura “tak usah bersedih kura-kura, bagaimana kalau kamu tinggal dirumahku saja, lubangku masih cukup luas untuk menampung seekor hewan lagi”. Kura-kura memandang kelinci dengan ragu “apakah benar aku boleh menumpang? Alangkah senangnya hatiku, kelinci. Aku tak perlu lagi berkeliling hutan”. Kelinci pun tersenyum dan menganggukkan kepalanya.

Continue reading

Kuda Perak

–Created by Tanti–

Suara kembang api terdengar sangat meriah di tengah kota. Hari ini adalah hari ulang tahun kota ke 200. Ada berbagai macam atraksi, pasar malam dan arena bermain. Semua dihiasi dengan kerlap-kerlip lampu berwarna-warni. Saat itu, hampir semua warga kota datang dan ikut merayakan hari ulang tahun kota, tak terkecuali dengan keluarga Lova. Lova, seorang anak manis yang masih berumur enam tahun itu datang bersama ayah dan ibunya.

Dalam perayaan itu, Lova berlari kesana kemari dengan girang, ia mengunjungi hampir semua stand pasar malam terutama yang berhubungan dengan permainan. Setelah menyelesaikan satu permainan di stand belakang panggung, Lova menemukan satu stand yang tidak biasa, stand itu tidak gemerlap seperti stand-stand umumnya di pasar malam. Keberadaan stand yang sunyi itu membuat Lova penasaran, ia ingin melihat lebih dekat stand tersebut. Lova menjinjitkan kakinya untuk melihat lebih jelas karena tingginya tidak melebihi meja stand. Dari balik meja, ia melihat hanya ada beberapa barang tergantung di dinding belakang yang sepertinya dijual. Dani mata Lova terpaku pada satu benda hijau yang tampak indah, yaitu bantal beludru hijau dengan sulaman perak bergambar kuda poni. Tanpa sadar Lova pun bergumam “cantk sekali bantal itu”. Tak lama kemudian terdengar suara lembut dari balik pundak Lova “kamu suka bantal itu, adik manis?” suara itu membuat Lova terlonjak karena kaget. Dengan cepat Lova memalingkan wajahnya mencari asal suara, ternyata disampingnya telah berdiri seorang wanita separuh baya yang mengenakan pakaian panjang sedang tersenyum lebar. “Ya, aku suka sekali bantal itu Bu. Cantik sekali, apakah Ibu menjualnya?” Tanya Lova. Wanita itu pun menjawab,” ya adik manis bantal itu memang untuk dijual, karena aku tau kamu adalah anak yang baik, kuberikan harga yang tidak mahal”. Dengan cepat Lova pun menghitung-hitung uang yang ia miliki, dan tersenyum girang ketika tau bahwa uangnya cukup untuk membeli bantal hijau. “Ibu, aku punya uangnya, bolehkah aku membeli bantal cantik itu?” pinta Lova. “tentu saja adik manis, kamu pasti akan menyukainya” jawab  wanita itu sambil mengambil bantal hijau dan membungkusnya dengan kertas pembungkus berwarna perak. Setelah membayar sejumlah yang diminta,Lova pun kembali ke tempat ayah dan ibunya berada tanpa melepas bantal barunya sedikitpun. Continue reading

Rawel sang Penyembuh

Rawel sang Penyembuh

Di suatu desa, hiduplah sebuah keluarga yang terdiri dari ibu, ayah dan seorang gadis kecil bernama Radelia. Ibu Radelia adalah seorang pemetik apel, sedangkan sang ayah adalah penebang kayu yang memiliki penghasilan tak seberapa.

Suatu hari yang cerah, ketika Radelia sedang membersihkan rumah, ia mendengar keributan yang semakin lama terdengar semakin mendekat. Tak lama kemudian, pintu rumah yang hanya terbuat dari bambu tua itu terbuka dengan keras diikuti kerumunan penebang kayu yang masuk ke dalam rumah dengan tergesa-gesa. Ditengah kerumunan itu, ia melihat beberapa orang sedang membopong sang ayah. “Ayah! Ayah! Apa yang terjadi?” dengan cemas radelia mendekati ayahnya, dan seketika itu juga Radelia mengetahui jawabannya. Sesuatu telah mengoyak kaki sang ayah, darah tak henti-hentinya mengalir dari kaki kanannya. Sambil menahan tangis Radelia bertanya pada salah satu penebang kayu apa yang terjadi dengan kaki sang ayah. Penebang kayu itu menceritakan bahwa ayah Radelia mencari kayu terlalu jauh kedalam hutan sehingga tak menyadari bahwa ia mendekati sarang serigala. Kawanan serigala itu merasa terancam dengan kedatangan ayah Radelia, sehingga mereka mencoba menerkam ayah Radelia. Ketika teriakannya terdengar oleh salah satu penebang kayu, dengan segera mereka mencari sumber suara dan mengusir serigala itu. Tapi sayang, serigala itu sebelumnya telah melukai kaki sang ayah. Radelia sangat berterimakasih kepada para penebang kayu yang telah menyelamatkan sang ayah. Continue reading

Kisah Hidup Paman Gober

P1020059

Siapaaaa yang gak kenal paman goberrr… mihihihi si paman paling kikir sedunia (tp kayanya memang harus begitu klo mau kaya ya :P)

waktu mudik sesi terdahulu, saya dan si suami berjalan-jalan asyik ke gramedia, tap-tap-tap-tap-tap kita melangkah dari rak buku novel sampai ke rak buku komik. kenapa dimulai dari novel? karena tujuan saya paling pertama adalah novel,sedangkan si doi yang ga begitu suka baca buku biasanya lebih memilih singgah di tempat komik.

setelah saya selesai memilih buku, saya menyusul si suami ke tempat komik untuk nyari kali aja ada miiko terbitan baru, dan tiba-tiba aja kita nemu buku tebal nan lucu ini yang berjudul kisah hidup paman gober. wowowowowow karena saya dan suami jaman dahulu kala ketika masih berumur yang bisa dihitung oleh jari tangan dan kaki sama-sama rajin berlangganan majalah donal bebek, maka kami pun terkesima beberapa saat melihat si buku lucu ini dan tidak sampai hitungan detik lalu memutuskan untuk membelinya (walo klo dipikir2 sekarang ni buku harganya mahal juga)

fyi,ini buku berat bangett, ga bisa dibaca sambil nongkrong asyik di toilet (yes, saya pernah coba dan rasanya pegal luar biasa). buku ini adalah kumpulan dari beberapa cerita paman gober, sebenernya kebanyakan udah pernah saya baca sih tapi kan namanya juga manusia pasti ada lupa-lupanya, jadi membaca kembali tetep aja asik 😀

buku setebal 498 halaman ini udah seleseeeii saya baca lohhh  (suami saya pun cepat sekali selesainya waktu baca ini, gak kaya waktu dia baca novel sidney sheldon saya yang sampe sekarang juga ga selesei2 ntu buku). bagus sekali buku gober ini,, ada gak ya versi beginiannya si donal bebek, semoga adaaaaa (siap2 beli :P)

Kereta Tak Berujung

“BRAKK” lagi lagi pintu depan dibanting oleh Simon, lalu terdengar suara teriakan marah ibunya dari arah dapur. Setiap hari setelah pulang sekolah, tanpa berganti baju, tanpa bersih-bersih, tanpa makan siang, Simon selalu lanjut pergi bermain tanpa izin sang ibu. Kemanakah Simon pergi?

Simon pergi ke bekas stasiun kereta. Dahulu stasiun ini dipergunakan untuk kereta antar kota. Akan tetapi, stasiun ini dipindah lokasi ke tempat yang baru karena tempat ini terlalu sempit. Saat ini stasiun dibiarkan terbengkalai, terkadang tampak beberapa pemulung berkumpul disana, tapi terkadang tidak ada seorang pun yang muncul disana.

Simon sangat menyukai cerita detektif, ia selalu berkhayal menjadi seorang detektif yang menemukan harta karun, penyimpanan barang curian, ataupun lorong-lorong tersembunyi. Karena itulah, Simon senang sekali bermain di stasiun lama ini. Ia menyusuri lorong-lorong stasiun, berusaha mencari pintu-pintu rahasia. Menjelang malam setelah puas bermain barulah Simon pulang ke rumah. Ia selalu disambut oleh kemarahan sang ibu, bahkan seringkali ibunya memberikan hukuman-hukuman seperti dilarang keluar rumah selama dua hari, lima hari bahkan seminggu. Tetapi Simon selalu menemukan celah untuk menyelinap keluar dan kembali ke stasiun. Continue reading

Rumput Kecil yang Hebat

Pagi itu matahari bersinar sangat terang,cukup membuat Flava terbangun dan kembali menegakkan daunnya. “Selamat pagi, Flava” kecupan daun pagi sang ibu membuat Flava benar-benar terbangun. “Selamat pagi, Ibu” jawab Flava sambil menguap. Flava adalah rumput kecil, ia tumbuh tepat di lapangan rumput di samping ibunya yang sudah memiliki daun yang rimbun dan akar yang kuat.

Tepat di depan mereka adalah setapak kosong, tidak ada rumput yang tumbuh disana, setiap hari Flava selalu memandangi jalan setapak itu dan selalu berpikir mengapa mereka tidak tinggal disana, padahal disana begitu luas dan tanahnya pun terlihat begitu subur.” Ibu, mengapa kita tidak pindah ke setapak sana? disana lebih luas, aku pasti akan tumbuh dengan hebat!!” Tanya Flava dengan besar kepala. Ibu hanya menggeleng dan menjawab “tidak nak, tempat itu bukan tempat yang aman untuk rumput hidup”. Flava sangat kecewa sekali dengan jawaban sang Ibu, karena walaupun Flava masih kecil,ia tahu bahwa tempat itu lebih luas, makanan yang tersedia di tanah pun lebih banyak, selain itu mereka tidak akan berebut air hujan untuk minum dengan rumput-rumput tetangga. Dan kembali Flava membayangkan dirinya tumbuh menjadi rumput paling hijau dan paling rimbun dari semua rumput disana, Flava akan tampak hebat! Setiap hari Flava kembali bertanya hal yang sama kepada ibunya, dan kembali mendapat jawaban yang sama. Flava kesal sekali karena ibunya tidak mau pindah ke tempat luas di depan sana.

Hari-hari Flava habiskan dengan memandangi setapak luas itu dan memikirkan bagaimana cara agar sang Ibu mau pindah kesana. Sampai akhirnya Flava memutuskan untuk pindah sendiri walau ibu tidak mengizinkan. Akan tetapi sesaat kemudian Flava kembali meragu, karena tentu saja ibu akan menahannya untuk pindah. Flava kembali berpikir keras, dan mendapat ide untuk berpindah di malam hari ketika sang ibu sudah tidur.

Malam yang dinanti Flava pun tiba, bulan sedang bersinar terang diatas sana. Flava memandang ibunya yang sedang tidur lelap, lalu bergerak sepelan mungkin menaikan akarnya, karena akarnya belum terlalu besar, Flava dapat menariknya dengan mudah. Satu demi satu akarnya naik keatas tanah, kemudian sedikit demi sedikit ia bergeser ke arah setapak yang lapang. Setelah sampai di tempat yang dia rasa sudah cukup enak, Flava kembali memasukkan akarnya ke dalam tanah. Tanahnya terasa segar sekali dan begitu subur “aku akan tumbuh dengan hebat jika aku tinggal disini, akan aku buktikan kepada Ibu bahwa rumput bisa hidup disini!” lalu Flava pun kembali tertidur.

Continue reading

Jam Tangan Tembaga

“JANGAN MEMASUKI DAERAH INI TANPA IZIN” tertulis di atas papan yang sudah kumal. Kein dan Saria memandangi papan kumal di ujung jalan desa itu. “Apa itu,Saria? Ayo kita lihat!!”sahut Kein dengan semangat. Saria mendongak dan melihat langit sudah mulai gelap, “ayo Kein kita pulang, sudah mulai gelap, nenek pasti mencari kita”. Dengan enggan,mereka pun kembali menyusuri jalan setapak desa, Kein bergumam dan menggerutu karena ia ingin sekali bertualang di tempat itu. Continue reading

Benda kecil Nandia

 

“Nandiaaaaaaaaa” suara Mama menggelegar dari kamarnya. Nandia segera berlari ke arah kebun dan bersembunyi dibalik kursi taman. Terdengar suara langkah kaki Mama keluar rumah menuju kursi taman. “Sudah berapa kali Mama bilang, Nandia. Jangan bermain-main dengan barang-barang Mama apalagi alat make up Mama! Lihat ini lipstick dan eyeshadow Mama hancur lebur. Ini bukan mainan!!” Nandia hanya diam dan tertunduk.

Keesokan harinya, Nandia mengendap-endap ke kamar Mama nya. Ia membuka kotak putih mengkilap yang berisi berbagai macam peralatan make up dan memandang takjub pada semua barang yang tertata rapi didalamnya. Tiba-tiba ia teringat ucapan Mama kemarin sore, segera ia tutup kembali kotak cantik itu. Sesaat ia ragu, Nandia membuka kembali kotak itu dan mengambil sebuah lipstik hitam mengkilap dengan tutup berwarna emas, seperti tersihir oleh benda itu, Nandia mengambilnya dan berlari ke kamarnya setelah menutup kotak makeup tersebut. Continue reading

Pohon Biru

Di suatu pasar, ada seorang ibu penjual beras. Ibu itu bernama Kinsi. Ibu Kinsi setiap pagi pergi ke pasar untuk berjualan beras, berasnya ia dapat dari saudagar kaya dengan harga yang mahal, sehingga ibu Kinsi tidak mendapatkan keuntungan banyak dari hasil beras yang terjual.

Suatu pagi ketika Bu Kinsi sedang menimbang beras, Ibu Kinsi melihat ada suatu benda kecil berwarna biru. Diambilnya benda biru itu oleh Bu Kinsi, ia pun bingung karena benda itu tidak memiliki bentuk yang beraturan. Benda biru itu ditaruhnya didalam gelas. Berminggu-minggu berlalu, Bu Kinsi pun lupa akan benda biru itu, tiba-tiba ia tersadar ada segenggam daun berwarna jingga muncul dari gelas yang tidak terpakai. Didasar gelas terdapat serpihan-serpihan berwarna biru, maka ingatlah ia akan benda kecil aneh yang dulu pernah ia temukan. Ternyata benda kecil itu adalah benih tanaman. Maka ia pun memindahkan tanaman itu ke dalam pot kecil. Continue reading