Kuda Perak

–Created by Tanti–

Suara kembang api terdengar sangat meriah di tengah kota. Hari ini adalah hari ulang tahun kota ke 200. Ada berbagai macam atraksi, pasar malam dan arena bermain. Semua dihiasi dengan kerlap-kerlip lampu berwarna-warni. Saat itu, hampir semua warga kota datang dan ikut merayakan hari ulang tahun kota, tak terkecuali dengan keluarga Lova. Lova, seorang anak manis yang masih berumur enam tahun itu datang bersama ayah dan ibunya.

Dalam perayaan itu, Lova berlari kesana kemari dengan girang, ia mengunjungi hampir semua stand pasar malam terutama yang berhubungan dengan permainan. Setelah menyelesaikan satu permainan di stand belakang panggung, Lova menemukan satu stand yang tidak biasa, stand itu tidak gemerlap seperti stand-stand umumnya di pasar malam. Keberadaan stand yang sunyi itu membuat Lova penasaran, ia ingin melihat lebih dekat stand tersebut. Lova menjinjitkan kakinya untuk melihat lebih jelas karena tingginya tidak melebihi meja stand. Dari balik meja, ia melihat hanya ada beberapa barang tergantung di dinding belakang yang sepertinya dijual. Dani mata Lova terpaku pada satu benda hijau yang tampak indah, yaitu bantal beludru hijau dengan sulaman perak bergambar kuda poni. Tanpa sadar Lova pun bergumam “cantk sekali bantal itu”. Tak lama kemudian terdengar suara lembut dari balik pundak Lova “kamu suka bantal itu, adik manis?” suara itu membuat Lova terlonjak karena kaget. Dengan cepat Lova memalingkan wajahnya mencari asal suara, ternyata disampingnya telah berdiri seorang wanita separuh baya yang mengenakan pakaian panjang sedang tersenyum lebar. “Ya, aku suka sekali bantal itu Bu. Cantik sekali, apakah Ibu menjualnya?” Tanya Lova. Wanita itu pun menjawab,” ya adik manis bantal itu memang untuk dijual, karena aku tau kamu adalah anak yang baik, kuberikan harga yang tidak mahal”. Dengan cepat Lova pun menghitung-hitung uang yang ia miliki, dan tersenyum girang ketika tau bahwa uangnya cukup untuk membeli bantal hijau. “Ibu, aku punya uangnya, bolehkah aku membeli bantal cantik itu?” pinta Lova. “tentu saja adik manis, kamu pasti akan menyukainya” jawab  wanita itu sambil mengambil bantal hijau dan membungkusnya dengan kertas pembungkus berwarna perak. Setelah membayar sejumlah yang diminta,Lova pun kembali ke tempat ayah dan ibunya berada tanpa melepas bantal barunya sedikitpun.

Sesampainya di rumah, dengan tak sabar Lova membuka bungkusan peraknya dan tampaklah bantal hijau bersulamkan kuda perak bersayap yang sangat cantik, “selamat datang ke rumah baru mu kuda perak” sapa Lova kepada bantal barunya. Setelah mengganti bajunya dengan baju tidur dan membersihkan diri, Lova pun naik keatas tempat tidur dan siap untuk tidur dengan memeluk bantal barunya.  Akan tetapi,tak berapa lama Lova memejamkan matanya, tampak cahaya perak menyilaukan yang memaksa mata Lova untuk terbangun kembali. Ketika lova membuka matanya, tampak cahaya perak dari bantal hijau nya,cepat-cepat Lova bangun dan meletakkan bantal yang tadi dipeluknya. Cahaya keperakan itu semakin kuat dan semakin menyilaukan yang membuat Lova harus memejamkan mata lagi. Setelah terasa silau keperakan itu menghilang, Lova memberanikan diri membuka mata dan ia tak percaya dengan apa yang dilihatnya.

Dalam keremangan cahaya lampu tidur, tampak kuda perak dengan sayap yang berkilauan memandang kearah Lova. Sedikit demi sedikit Lova mendekati kuda perak yang terus memandangi Lova. Karena terlihat tidak membahayakan, Lova memberanikan diri untuk menyentuh kuda itu. Bulunya terasa sangat lembut di tangan Lova. Dan dengan tiba-tiba kuda itu merendahkan badannya seperti mengajak Lova untuk naik kepunggungnya. Walaupun sedikit ragu, tapi Lova naik ke punggung sang kuda. Pelan-pelan kuda perak itu menaikkan kembali badannya dan berjalan menuju jendela. Dengan satu kali lompatan yang cukup  mengagetkan Lova, kuda itu pun terbang di tengah langit malam sambil sesekali mengepakkan sayap peraknya. Lova girang bukan kepalang, ia terus tertawa-tawa. “kemana kita akan pergi kuda perak?” Tanya Lova, kuda perak yang tak dapat berbicara itu hanya menjawab dengan ringkikkannya dan terus mengarah keatas. Ternyata kuda perak mengajak Lova mengunjung taman istana yang terletak di atas bukit, sudah lama sekali Lova ingin kesana tapi tidak diperbolehkan oleh ibunya karena Lova terlalu kecil untuk naik keatas bukit sendirian. Taman itu indah sekali, semua lampu taman menyala menerangi bunga-bunga yang bermekaran dengan latar belakang langit dengan beberapa kerlip bintang. Lova bermain dengan kuda perak itu sepanjang malam. Dan tiba-tiba Lova teringat bahwa ia sudah bermain terlalu lama, dan malam pun akan segera habis. Ibu akan cemas jika tidak menemukannya di kamar pagi hari nanti. “Kuda perak, terimakasih telah membawaku kemari aku senang sekali. Tapi sepertinya sudah saatnya aku pulang, maukah kamu kembali mengantarkan ku pulang ke rumah?” Tanya Lova. Kuda perak pun mengangguk dan kembali membungkukkan badannya agar Lova dapat naik kembali ke atas punggungnya. Tak berapa lama mereka sudah kembali kekamar Lova, Lova pun kembali ke atas tempat tidurnya dan segera tertidur karena kelelahan. Tanpa Lova lihat, kuda perak pun kembali menjadi sinar-sinar keperakan dan kembali menjadi sulaman dibantal hijau.

Ketika pagi datang, Lova terbangun dengan ingatan taman istana semalam. Ia pun mencari kuda perak disekeliling kamarnya, ketika tidak mendapati seekor kudapun disana ia pun segera mencari bantal hijau barunya. Ternyata bantal hijaunya masih ada di atas tempat tidurnya dengan sulaman kuda perak seperti semalam. Lova pun berpikir mungkin semalam ia hanya bermimpi, ia bergegas turun dari tempat tidurnya untuk sarapan bersama ayah dan ibu. Ketika ia turun, ada suatu benda jatuh dari lipatan gaun tidurnya. Ternyata itu adalah sebuah kelopak bunga berwarna cerah, dipandanginya kelopak itu sampai ia benar-benar yakin bahwa itu adalah bagian dari bunga di taman istana semalam. Yakinlah Lova kalau perjalanan bersama kuda perak semalam bukanlah mimpi. Lova pun kembali ke bantal hijaunya dan berkata“selamat pagi kuda perak, terimakasih atas perjalanannya semalam, walau aku tak tahu bagaimana tapi kuharap kita bisa bertemu lagi” setelah memeluk bantak hijaunya, Lova turun ke ruang makan dimana ayah dan ibunya telah menunggunya untuk sarapan.

Hari itu Lova tidak meninggalkan bantal hijaunya sedetik pun, dengan harapan akan bertemu lagi dengan kuda perak. Karena kuda perak tak kunjung muncul dihadapannya, Lova beralih menjadi mengajak kuda perak dalam bantal itu untuk berbincang-bincang,  bermain bersama dan bahkan memberinya nama. “Karena kau kuda yang cantik dan berwarna perak, maka aku memberimu nama yang cantik sesuai warnamu, yaitu Silvan. Kau suka kan, Silvan?” celoteh Lova kepada bantal hijaunya. Lova kembali bercerita tentang tempat-tempat yang ingin ia singgahi dan jelajahi bersama Silvan, seperti air terjun dibalik bukit, danau bulan yang menurut orang-orang sangat indah dimalam hari dan tempat-tempat lainnya yang hanya bisa ia dengar dari cerita-cerita orang. Bantal hijau itu pun tetap membisu disamping Lova yang tak henti-hentinya bercerita.

Ketika malam tiba, setelah menyelesaikan makan malamnya Lova pun beranjak menuju kamarnya. Lova dikagetkan oleh sesuatu ketika ia membuka pintu kamarnya.Ya, hal yang membuat Lova kaget adalah Silvan yang sedang berdiri tegap di samping tempat tidur sambil mengibas-ngibaskan ekornya. Lova sangat senang karena berjumpa lagi dengan Silvan, ia berlari dan memeluk Silvan “kupikir kita tidak akan bertemu lagi” sahut Lova tanpa sedikitpun melonggarkan pelukannya di leher Silvan. Lova pun akhirnya melepaskan pelukannya saat Silvan membungkukkan badannya, tanpa berbicara lagi Lova pun naik keatas punggung Silvan. Kali ini Silvan mengajak Lova ke air terjun di balik bukit, ternyata Silvan mendengar semua perkataan Lova siang  tadi.

Tak ada hari tanpa Silvan untuk Lova. Setiap malam, kamar Lova akan terang benderang karena kehadiran Silvan. Tak setiap malam Silvan mengajak Lovaberpetualang keluarrumah, terkadang mereka hanya bermain di dalam kamar ataupun hanya di halaman rumah. Semakin hari, Lova semakin menyukai Silvan, ia sudah dianggap sebagai sahabat terbaik Lova. Sampai ketika di suatu siang Lova baru menyadari warna benang keperakan yang tersulam membentuk Silvan di bantal semakin pudar dan ada beberapa benang yang terlepas. Lova yang saat itu belum bisa menggunakan benang dan jarum segera mencari ibunya “ibu, ibu, tolong aku. Bisakah ibu membetulkan sulaman ini?” Tanya Lova peuh harap sambil memberikan bantal hijaunya kepada sang ibu. Ibu Lova meneliti sejenak lalu menggeleng “tidak bisa anakku, benang halus seperti ini tidak dijual disini. Dan juga sepertinya hanya jarum khusus yang bisa menyulam bahan lembut ini tanpa membuatnya terkoyak”. Lova sedih sekali tapi ia berpikir selama Silvan masih mengunjunginya setiap malam, benang-benang yang berjatuhan itu tidak berarti apa-apa.

Hampir setahun lebih Lova bermain bersama Silvan, dan baru-baru ini Lova menyadari bahwa sinar keperakan SIlvan semakin redup. Lova pun bertanya apakah Silvan sakit, yang dijawab Silvan dengan gelengan kepala. Hari berganti hari, SIlvan semakin tampak lemah, setiap malam kedatangannya ia hanya terduduk diam di samping tempat tidur Lova. Lova pun mulai khawatir, ia tak berani meninggalkan Silvan sedetik pun sampai-sampai Lova tidur di lantai.

Dan akhirnya, pada hari dimana diramalkan akan terjadi full moon, Silvan yang tetap mendatangi Lova di malam hari datang dengan keadaan yang sangat buruk. Ia tidak membuka matanya. Lova pun menangis dan memohon agar Silvan mau membuka matanya dan mengangkat kepalanya, tapi itu tidak terjadi. Tiba-tiba terasa sentuhan lembut di pundak Lova, “sudah waktunya adik manis”. Lova pun kaget karena tiba-tiba ada orang disampingnya, Lova pun sedikit memundurkan badannya untuk melihat siapa yang menyetuh pundaknya. Ternyata ia adalah wanita separuh baya yang dulu menjual bantal hijau kepadanya. “tak apa jangan takut. Aku datang untuk menjemput Silvan. Terimakasih kamu telah menemani Silvan selama ini, ia terlihat sangat bahagia. Sekarang sudah saatnya Silvan pergi” ujar wanita itu. Lova semakin sedih “tidak, tidak, SIlvan tidak boleh pergi. Kami sudah membuat janji akan terus bermain bersama” ucap Lova disela-sela tangisannya. Wanita itu pun kembali berkata, “dalam hidup ini, akan selalu ada yang datang, anak manis. Tapi selalu juga akan ada yang pergi. Semua yang datang, lambat laun akan pergi. Yang terpenting adalah memberikan yang terbaik ketika mereka ada sehingga kamu tidak akan menyesal dan akan mendapatkan kenangan indah bersama. Kenangan yang terukir itu tidak akan ikut pergi ketika mereka pergi. Kenangan itu akan selalu menemanimu. Jadi janganlah menangis, Silvan ingin diantar dengan senyuman bukan isakan” sahut wanita paruh baya itu. Walau tangisannya sedikit mereda, tapi air mata Lova tak bisa berhenti mengalir ketika menyaksikan wanita itu membungkus tubuh Silvan dengan kain putih lembut dan menggendongnya. “sampai jumpa anak manis, Silvan akan selalu menemanimu dalam setiap kenangan yang kamu punya, janganlah bersedih” selesai berkata itu, wanita itu pun menghilang dibalik tirai jendela yang terbuka.

Sepeninggal wanita itu, Lova hanya memandangi bantal hijau yang sekarang kosong tak bersulam. Walau begitu, Lova berjanji akan menjaga baik-baik bantal hijau itu dan kenangan-kenangan bersama Silvan.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s