Barang lama VS Barang baru

Perkenalkan, saya adalah si penimbun barang,, dan biasanya saya menyalahkan gen yg menjadikan saya sebagai penimbun :p

ingatkah kalian kamar papa saya yang sampai detik ini masih menyimpan berjuta-juta barang peninggalan dari zaman ke zaman, mulai dr peninggalan alm eyang kakung, alm om saya yang merupakan kembaran identik papa saya dan pastinya juga ada barang-barang kepunyaan papa saya sendiri sejak ia masih kecil (saya pernah beberapa kali super duper terpaksa menginap di kamar yang lebih layak menjadi museum itu. sungguh itu terpaksa pemirsa! karena waktu itu seluruh keluarga bertamasya keluar kota disaat anak perempuan kecil cantik sedang ujian sekolah dsaat yg tidak tepat). Saya pernah ceritakan kamar papa di post ini , yaah gak heran kan kalo saya memiliki sedikit kebiasaan yang sama😛

Berdasarkan kamus besar bikinan saya sendiri, definisi menimbun barang adalah tidak mau membuang barang lama, tapi tetep membeli barang baru jadi hasilnya adalah barang baru bertambah sedangkan barang lama tidak berkurang.

Menengok sedikit pada kehidupan saya sekarang. Saya dan suami yang sedang tinggal di luar kota ini dihadapi pada keharusan untuk menyewa rumah. Dalam menempati rumah yang bukan milik sendiri ini, sungguh ya cobaan untuk tidak mempercantik rumah itu sangat tidak ter-elak-kan hehehe. Saya sukaaa sekali barang-barang lucu dan beberapa barang existing saya adalah barang2 lucu yg tidak bisa saya tinggal begitu saja (hal ini keliatan banget dari bedcover yg saya bawa dari Jakarta demi corak yang saya suka, bawa piring-piring hello kitty saya untuk teman bersantap yg imut, dll). Tapi tapi kalo kami lagi berjalan-jalan dan berkunjung ke bagian home decor atau room decor rasa-rasanya hasrat untuk membeli karena itu semua lucu banget muncul dan menggelitik dengan sangat dasyats

Lalu bagaimana dengan suami, ahh dia juga gak jauh beda sebenernya huehehe. tapi barang yang dibelinya lebih raksasa dan lebih susah untuk dibawa-bawa. Kadang dia pengen speaker (dimana speaker sebenernya kita udah punya cuma volume controlnya aja udah ga sensitif), pengen home theater , pengen sofa yang sebenernya bakal worthed banget kalo dibelinya untuk ditaro di rumah sendiri, tapi sayangnya ini bukan rumah sendiri😛, pengen PC (dimana masing-masing kita sebenernya udah ada laptop), dll. Sebenernya barang-barang yang suami pengen ga ada yang jelek, saya pun suka-suka aja dengan barang2 itu (kecuali drum electric nya yaa) tapiiii untuk disimpan di rumah sendiri bukan di simpan di rumah temporary yang belum tau sampe kapan kita bakal tinggal disitu.

Jadi sekarang, ada beberapa hal yang saya coba lakukan untuk mengurangi kesedihan yang mendalam ketika sampai saatnya saya harus meninggalkan rumah pertama kami ini😀

1. hanya membeli barang ketika barang itu rusak

2. jika diharuskan membeli yang ga penting, belilah yang harga bersaing dengan kualitas oke seperti di daiso😛 dengan harga S$ 2 dan sedikit kreatifitas maka kebutuhan pun terpenuhi.

3. merawat barang, semakin dirawat maka barang itu akan berumur semakin panjang seperti rice cooker mini saya yang sampai sekarang sudah berumur hampir 3 tahun dan sudah saya ajak tinggal di berbagai kota😛

4. untuk melampiaskan hasrat mendekor rumah, saya akan bermain The Sims 3😛

 

Untitled

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s