Coklat dan Lusuh

Fifa melangkah ke pintu, “Sampai jumpa lagi Ma” sahutnya sambil mencium kedua pipi ibunya, kemudian ia pun mencium tangan ayahnya sambil berucap “Sehat selalu ya Yah”. Fifa berjalan di hamparan kerikil yang menghubungkan teras dan pagar rumahnya, ia kembali menengok ke belakang dan masih melihat ayah dan mama masi melambaikan tangan. Fifa masuk ke dalam taksi kuning yang telah ia pesan semalam, pikirannya kembali pada beberapa bulan lalu disaat iya mendapatkan beasiswa ini. Ketika pengumuman beasiswa itu diumumkan, Fifa baru saja menyelesaikan semester 2 jurusan Sastra Inggris di Universitas Marabahana. “Fifaa, ayo lihat pengumumannnn, kamu dapet beasiswa itu!!” Lasya menarik-narik tangan Fifa yang masih bingung. Di papan pengumuman, Fifa membaca sebaris nama yang sangat ia kenal ‘Fifanka Analisti’ “namaku” sahut Fifa masih dengan terkejut, sementara Lasya sudah sibuk memberitahu semua orang bahwa Fifa akan pergi ke kota singa.

Tersadar dari lamunannya,tak terasa taksi sudah memasuki terminal dua, Fifa menurunkan barangnya yang tidak seberapa. Banyak orang sudah mengantri counter check in, Fifa memilih antrian yang pendek. “kriiingg kriiiingg” Fifa merasakan getaran di tas nya, “Halo?”Fifa pun mengangkat telepon itu. “kamu sudah sampai nak? Tidak ada yang tertinggal? Nanti kasi kabar begitu sampai ya Nak?” pertanyaan Mama bergulir tanpa jeda, Fifa hanya menjawab “iya Ma nanti dikasi kabar, doain Fifa ya Ma” dan telepon pun terputus saat Fifa boarding.

Perjalanan di pesawat sangat singkat, tidak lebih lama dari perjalanan ke bandung. Sesampainya di Changi airport, Fifa menuju pool taksi. Fifa masuk kedalam taksi berwarna merah di antrian no 4, Fifa pun meluncur ke daerah Sengkang. Apartemen tempat ia menyewa salah satu kamarnya untuk satu tahun kedepan cukup luas, berada di lantai 7 dilengkapi dengan ruang tv dan dapur. Selain Fifa, ada dua orang lagi yang menyewa dua kamar sisanya. Beasiswa yang Fifa dapatkan ini adalah beasiswa untuk belajar langsung di perusahan publishing. Fifa diharuskan sampai di kantor itu pukul 9 pagi dan boleh pulang jam 5 sore. Jarak ke kantor tidak terlalu jauh hanya dua bus stop, karena Fifa memang mencari tempat yang dekat dengan kantor.

Hari pertama Fifa dimulai dengan berbagai kejadian buruk, Fifa berkali-kali melakukan kesalahan, sampai-sampai ia pun berpikir ‘apakah datang ke kota ini juga merupakan kesalahan?’. Ketika waktu pulang tiba, Fifa harus mampir dulu untuk membeli makan malam karena tidak ada lagi masakan mama yang menanti di meja makan, Fifa pun bergumam “betapa bersyukurnya aku ketika ada Mama yang selalu menyiapkan makanan untuk ku dan Ayah”. Sesampai di apartemen Fifa pun menyantap makanannya. Tidak lama setelah itu Fifa pun tertidur, hari itu sangat melelahkan untuk Fifa. Tetapi tidak hanya hari itu, hari-hari berikutnya berlangsung sama, akan tetapi Fifa sedikit demi sedikit mulai terbiasa dan menikmati pekerjaannya.

Tidak terasa hari sabtu pun tiba, Fifa sangat senang sekali dengan hari libur pertamanya. Pagi-pagi sekali ia sudah membersihkan kamarnya dan seluruh apartemen, karena Lado dan Yaman penyewa kamar lainnya tidak terlalu sering membersihkan rumah. Setelah selesai membersihkan rumah, Fifa pun mencuci dan bersiap-siap untuk pergi ke pusat kota yang selalu ramai dikunjungi wisatawan. Fifa pergi ke deretan toko-toko di Orchard, walaupun uang saku yang didapatkan Fifa cukup banyak, tetapi ia tidak membelanjakan uang tersebut. Fifa ingin memberikan uang tersebut untuk mama dan Ayah meski jumlahnya tidak seberapa.

Hari-hari Fifa berlalu dengan rutinitas yang sama, senin sampa jumat ia sibuk ke kantor.  Sabtu dan minggu ia habiskan untuk membersihkan rumah dan berkeliling kota. Di kantor, Fifa semakin mahir mengerjakan pekerjaannya, ilmu yang ia dapatkan sangat banyak. Berlawanan dengan kehidupan kantor yang semakin baik, kehidupan di apartemen tidak sebaik di kantor. Beberapa orang yang hidup bersama dalam satu tempat akan selalu ada permasalahan baik yang kecil maupun besar. Terkadang ketika Fifa merasa sangat kesepian, ia menunggu Lado atau Yaman pulang untuk sekedar bertukar cerita, akan tetapi Lado dan Yaman tidak tertarik untuk duduk berlama-lama untuk berbincang-bincang, mereka hanya duduk sebentar lalu berpindah ke kamar masing-masing. Fifa pun merenung “mungkin mereka terlalu lelah di tempat kerjanya, mungkin berbincang dengan ku sama sekali tidak menarik” akhirnya Fifa pun mematikan televisi yang sedari tadi memang ia nyalakan hanya untuk menunggu kedatangan Lado dan Yaman dan kembali ke kamarnya. Fifa menarik sebuah novel dari ujung mejanya dan membacanya di atas tempat tidur. Novel itu adalah pemberian dari Lasya, hadiah perpisahan sekaligus ucapan selamat atas beasiswa yang ia terima. Belum sampai lima halaman ia baca, mata Fifa berkaca-kaca,bukan karena isi novel itu tetapi ia teringat Lasya, Mama dan Ayah. Lasya yang selalu ada kapanpun ia kesepian, dan juga Mama dan Ayah yang selalu melontarkan pertanyaan ‘ada kabar apa Nak hari ini’ bahkan walaupun Fifa hanya di rumah seharian. Fifa begitu merindukan rumah.

Keesokan paginya Fifa berangkat ke kantor dengan perasaan tidak karuan, banyak kesalahan kembali ia lakukan. Ketika istirahat siang Fifa tidak pergi ke kantin dengan teman-temannya seperti biasa, ia hanya duduk di meja sambil memandangi telepon genggamnya yang bertuliskan ‘Mama’, dengan ragu ia menekan tombol hijau, “Fifa!” ada suara dari seberang sana, fifa pun menjawab “Ya Ma”, “ada apa Nak?” tanya Mama, Fifa hanya diam karena ia bingung harus berbicara apa, ia menekan tombol hijau itu tanpa berpikir panjang “tidak ada apa-apa Ma”jawab Fifa, mama pun bertanya lagi dengan was was “Fifa,kamu tidak apa-apa Nak?” setelah jeda cukup panjang Fifa pun menjawab ”Tidak apa-apa Ma, hanya ingin dengar kabar Mama saja” “Mama baik, Nak”jawab Mama terdengar lebih lega. Pembicaraan tidak berlangsung lama karena Fifa harus kembali bekerja.

Seminggu kemudian, datang sebuah paket besar untuk Fifa. Dengan tidak sabar Fifa membukanya karena pengirimnya adalah alamat rumahnya di Jakarta. Dibawah kertas pembungkus coklat itu Fifa melihat Koko, boneka teddy bear coklat yang sudah sedikit menipis sedang tidur manis didalam kotak plastik beralaskan kain merah. Fifa tersenyum melihatnya, ada sebuah surat putih terlipat diujung kotak “Fifa, ini bonekamu. Tempat tidur mu disini terlalu besar untuk dia sendiri. Dia kesepian, jadi Mama suruh dia ikut kamu Nak. Mama tau tempat tidurmu disana tidak sebesar tempat tidurmu disini, karena itu Mama buatkan tempat tidur plastik ini untuk bonekamu. Mama juga membuatkan selimut untuk boneka ini, jadi kamu tidak perlu berbagi selimut dengannya, Mama tau kamu mudah sekali kedinginan sehingga memerlukan selimut untuk dirimu sendiri. Baik-baik selalu disana ya Nak. Sampaikan salam Mama dan Ayah untuk Koko.” Fifa tersenyum sambil melipat surat itu dan menyimpannya dengan hati-hati di laci meja, ia kembali memandangi Koko, ia peluk erat-erat boneka itu.

Hari-hari Fifa tidak serta merta menjadi tidak bermasalah sejak adanya Koko. Fifa diberi pekerjaan semakin berat setiap harinya karena merupakan bagian dari pembelajaran yang harus ia pelajari. Hampir setiap hari ia dimarahi oleh rekan kerjanya. Begitu pula keadaan di apartemennya tidak kunjung membaik, semakin hari Lado dan Yaman semakin berbuat seenaknya, mereka tidak pernah mencuci kembali piring bekasnya, begitu pula sampah-sampah yang mereka buang disembarang tempat. Hal iitu terjadi sejak mereka tau bahwa Fifa selalu membereskan rumah, sehingga mereka berpikir walaupun mereka membuang sampah sembarangan, apartemen akan selalu kembali rapi. Disaat-saat seperti itu Fifa selalu masuk ke kamarnya lebih awal, ia memandangi Koko, ia berbicara panjang lebar tentang semua kekesalannya. Walaupun koko tidak pernah bergerak apalagi menjawab, Fifa merasa lebih tenang setelah bisa mengeluarkan permasalahan-permasalahan yang melesak di kepalanya, yang Fifa butuhkan hanyalah teman berbicara.

Minggu berganti minggu, bulan berganti bulan, hampir tiba masa akhir pembelajaran Fifa. Fifa telah berubah menjadi pribadi yang berbeda, ia lebih mandiri, ia memilki hati yang kuat. Pengetahuan Fifa di bidang publishing juga sudah berkembang pesat, bahkan Fifa sudah menandatangani kontrak untuk bekerja di perusahaan itu setelah ia lulus kuliah nanti. Hanya satu yang tidak berubah, dimanapun Fifa tinggal, disana pasti akan selalu ada beruang coklat lusuh duduk diatas tempat tidurnya. Boneka yang mengajarkan kepadanya nilai kehidupan ‘walaupun terjatuh tetaplah berpegang pada diri sendiri’.

So before they bring you down

You’ve gotta stand for something or you’ll fall for anything

[the script-fall for anything]

Created by Tanti

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s