Jam Tangan Tembaga

“JANGAN MEMASUKI DAERAH INI TANPA IZIN” tertulis di atas papan yang sudah kumal. Kein dan Saria memandangi papan kumal di ujung jalan desa itu. “Apa itu,Saria? Ayo kita lihat!!”sahut Kein dengan semangat. Saria mendongak dan melihat langit sudah mulai gelap, “ayo Kein kita pulang, sudah mulai gelap, nenek pasti mencari kita”. Dengan enggan,mereka pun kembali menyusuri jalan setapak desa, Kein bergumam dan menggerutu karena ia ingin sekali bertualang di tempat itu.

“Selamat makaaaaaan” sahut Kein dengan semangat ketika melihat meja makan penuh dengan makanan lezat buatan nenek, untuk sejenak Kein melupakan keinginannya bertualang di tempat terlarang itu. Setelah selesai makan, Kein dan Saria duduk-duduk di depan perapian sambil berbincang tentang papan kumal di depan perkebunan yang tadi sore mereka lihat. Kein bersikeras ingin melihat tempat itu lagi akan tetapi dilarang oleh Saria, karena menurut Saria pasti ada alasan mengapa dipasang tanda larangan itu. Waktu sudah menunjukan pukul 10 malam, Kein dan Saria beranjak dari perapian dan menuju kamar masing-masing.

“aku berangkat,Saria” sahut Kein di pagi hari ketika Saria masih menyantap sarapannya. Sebelum Saira sempat bertanya, Kein telah hilang dari pandangan mata. Karena hari ini Saria sedang ingin belajar memasak kue bersama nenek, maka Saria pun tidak menyusul kembarannya keluar rumah.

Sepanjang hari Saria sibuk di dapur bersama nenek membuat pie apel dan berbagai masakan lezat untuk makan malam. Jam sudah menunjukan pukul 6 sore, akan tetapi Kein belum juga pulang. Ketika jam menunjukkan pukul 8 malam, terdengar bunyi pintu terbuka. Terlihat Kein di ambang pintu, dengan lumpur menghiasi sebagian pakaiannya. Nenek langsung memarahi Kein karena pulang terlambat, tetapi Kein tidak terlihat takut, muka nya terus berbinar-binar dan langsung menyantap makan malam.

Selesai makan dan membersihkan badan, Kein langsung masuk ke kamar tidur. Saria langsung menyusul Kein, bertanya kemana saja seharian. “Aku menemukan harta karun, Saria!! Lihat ini!!” sambil menunjukan jam tangan tua berwarna tembaga. Kein membersihkan arloji itu dengan sapu tangannya. Jam tangan itu terlihat bagus ketika telah dibersihkan. “dimana kau menemukan jam tangan itu, Kein?” tanya Saria. “Mmmmh di pinggir jalan desa, terkubur tanah merah, sepertinya sudah lama berada disana” jawab Kein sambil memandangi langit-langit rumah. Saria pun kembali ke kamarnya ketika Kein naik ke tempat tidurnya, Saria yakin ada sesuatu yang ditutupi oleh Kein karena Kein berbiccara tanpa memandang mata Saria.

Setelah Saria pergi ke kamarnya, Kein kembali bangun, ia memandangi kembali jam tangan itu. Diputarnya pin di samping jam tangan itu, jarum pun berputar dan cahaya kuning berpendar muncul dari layar arloji itu.

“Selamat pagi, Nek. Kein belum bangun? Aku bangunkan Kein dulu ya Nek”sahut Saria. Setelah beberapa kali mengetuk kamar yang tak juga terbuka, akhirnya Saria memutuskan untuk membukanya. Kein ternyata sudah tidak ada.  Saria pun kembali ke ruang makan “Kemana Kein pergi ya Nek? Pagi sekali ia berangkat”. Jam 3 sore, barulah Kein pulang, muka nya tidak sesegar biasanya, bajunya sangat kotor.

Keesokan harinya, hal yang sama terjadi lagi. Kein pergi ketika semua orang masih tertidur, dan seperti hari kemarin ia pulang jam 3 sore. Kein mulai berubah, menjadi lebih pendiam dari biasanya.

Kejadian ini terjadi berulang-ulang, semakin hari Kein semakin kurus, mukanya bertambah pucat. Sampai akhirnya satu malam, Saria mendatangi Kein, “ada apa Kein? Apa yang terjadi?”tanya Saira. Kein  menggeleng “aku lelah Saria” lalu menarik selimutnya dan tertidur.

Hal ini terus berulang terjadi. Saria semakin khawatir melihat saudaranya semakin hari semakin kurus, kembali bertanya “Kein, apa yang sebenarnya terjadi?”. Kein memandang Saria dengan pandangan ketakutan, lalu menunjuk laci lemari dengan matanya, kemudian ia kembali menarik selimutnya. Saria kembali ke kamarnya dengan penuh kebingungan.

Hari-hari berikutnya hal itu tetap terjadi. Ketika Saria berusaha keras berpikir tentang kemungkinan yang terjadi  pada saudaranya, tiba-tiba ia teringat raut ekspresi Kein ketika malam itu, Saria bergegas menuju kamar Kein. Dibukanya laci yang dilirik oleh Kein malam itu. Ada secarik kertas kusut disana, Saria dengan cepat merapikan kertas yang tampaknya telah diremas-remas sebelumnya. Ternyata ada pesan singkat tertulis disana.

Saria, tolong aku. Jam itu, buang! Lempar kembali ke daerah terlarang. Lepaskan dari tanganku tanpa sepengetahuanku. Tolong Saria, aku sudah tak tahan lagi..” setelah membaca surat itu,Saria bergegas mencari adiknya kemana-mana, tapi ia tidak dapat menemukannya.

Jam 3 sore, seperti biasa Kein pulang. Saria bergegas mendatangi Kein dan bertanya apa maksud surat itu. Dengan wajah ketakutan, Kein menjawab “ti-ti dak, tidak ada apa apa” sambil bergegas masuk ke kamarnya. Saria teringat isi pesan itu “Lepaskan dari tanganku tanpa sepengetahuanku”. Saria pun kembali ke kamar Kein, Kein sudah tertidur dengan wajah yang sangat lelah. Saria melihat pergelangan tangan Kein, ia mencari jam tangan tembaga. Ternyata ia mengenakan di tangan kanan, dengan susah payah Saria berusaha melepaskan, tapi jam itu seperti terikat dengan kuat. Hari-hari berikutnya Saria berusaha melepaskan jam tangan ketika Kein tertidur, tetapi masih tidak berhasil. Saria pun pergi ke gudang perlengkapan milik kakek, ia mencari perkakas yang biasa dipakai kakek untuk menggunting kawat baja di peternakannya. Begitu ia temukan, setengah berlari Saria menuju kamar Kein. Ia gunting jam tangan itu dengan susah payah, akhirnya jam itu pun putus. Dibawanya jam itu ke daerah terlarang, ia lemparkan ke daerah terlarang itu, dan bergegas kembali ke rumah.

“Kein,keinnn, bangun Kein!!!” tanpa berhenti sedetik pun ia terus berusaha membangunkan.“Saria, ada apa..”Kein yang masih setengah sadar bertanya karena dibangunkan secara paksa. “sudah, jam itu sudah kembali” sahut Saria. Kein yang masih bingung, segera menarik tangannya dari bawah selimut dan mendapati tangannya sudah bersih dari ikatan jam. Kein pun tersenyum dan memeluk Saria “terimakasih Saria!! Menyeramkan sekali tempat itu” lalu Kein pun bercerita bagaiman jam itu membuatnya tidak sadar di jam 12 malam, dengan dibawah pengaruh jam tangan berjalan menuju daerah terlarang itu, disana ia dipaksa melakukan pekerjaan budak, jika ia berhenti ia akan di sakiti. Jam itu tidak bisa lepas dari tangannya, jam itu yang membawa dia pergi dan mengembalikannya ke rumah di sore hari. Jam itu pula yang mengunci mulutnya untuk berkata tentang jam dan daerah terlarang, sampai suatu hari Kein terpikir untuk membuat surat permintaan tolong, berharap Saria akan menemukannya.

Saria tidak dapat berkata apa-apa karena semua cerita Kein sangat mengejutkan. Saria hanya bersyukur karena akhirnya Kein telah kembali seperti semula, dan Kein pun berjanji tidak akan lagi memasuki tempat-tempat asing tanpa seizin pemiliknya.

 

created by Tanti

2 thoughts on “Jam Tangan Tembaga

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s