Kambing dan Anak Kambing

kandang ini hanya cukup untuk 3 ekor kambing dan telah dihuni oleh 3 ekor kambing jantan yang berbadan besar. Si sulung, si tengah dan si bungsu. Setiap sore, setelah 3 kambing puas bermain-main dan berkeliling di ladang, pa tani mengunci kandang dan mengganti rumput pakannya. Pada pagi hari pak tani akan membuka kembali kandang agar kambing-kambing bebas merumput dan berjalan-jalan di ladang. Hal  itu membuat ketiga kambing tersebut merasa diperlakukan dengan sangat istimewa.

Di suatu pagi, terdengar suara lemah dari balik alang-alang. Si bungsu mendekati asal suara, ternyata disana terkapar anak kambing yang sedang terluka kakinya. Terbit rasa kasihan, maka anak kambing tersebut dibawa olehnya ke kandang. Sesampainya di kandang, si sulung dan si tengah memarahi si bungsu karena membawa anak kambing itu. Mereka mengatakan bahwa kandang itu terlalu sempit untuk tiga kambing, kandang itu bukan untuk kambing sembarangan, hanya kambing terpilih yang berhak tidur di kandang. Dengan berat hati si bungsu membawa anak kambing itu keluar, di tempatkan nya anak kambing itu di bawah pohon besar agar tidak terkena hujan dan terpaan angin malam. Setiap hari si bungsu membawakan rumput segar untuk anak kambing. Si sulung dan si tengah selalu memandang rendah si bungsu karena mengurus anak kambing tanpa asal usul itu.

Suatu hari, ketika si bungsu sedang mengajak main anak kambing (karena kaki anak kambing berangsur-angsur pulih) sampai lupa waktu, tidak terasa waktu sudah malam. Ketika si bungsu kembali ke kandang, kandang tersebut telah dikunci oleh pak tani. Maka si bungsu dan anak kambing tidur di bawah pohon dengan diiringi ejekan dari kakak-kakak nya. Ketika pagi datang, keanehan terjadi. Pak tani tidak datang untuk membuka pintu kandang. Begitu pula hari-hari berikutnya. Si sulung dan si tengah mulai khawatir karena persediaan makanan telah habis. Si bungsu yang berada di luar kandang tidak dapat melakukan apapun karena kandang tersebut hanya bisa dibuka oleh manusia.

Si sulung dan si tengah meminta maaf kepada si bungsu dan anak kambing atas ucapan-ucapan dan tindakan-tindakannya, mereka mulai memohon-mohon kepada si bungsu untuk membawakan makanan. Si bungsu yang baik hati telah memaafkan, akan tetapi makanan tersebut tetap tidak dapat dimasukkan ke dalam kandang, karena kandang tersebut tertutup rapat.

Tiba-tiba pada suatu hari, datanglah sekelompok orang membuka kandang. Mereka menarik paksa si sulung dan si tengah ke atas gerobak yang biasa digunakan untuk mengangkut barang jualan ke pasar. Karena kedua kambing itu dalam keadaan lemas, mereka tidak bisa melakukan perlawanan. Dan si bungsu pun hanya bisa menyaksikan kedua kakaknya dibawa untuk disembelih sambil bersembunyi dari balik alang-alang bersama anak kambing.

One thought on “Kambing dan Anak Kambing

  1. Pingback: Kambing dan Anak Kambing « Storitie - Website Kumpulan Dongeng

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s