The Pig Who Wanted to Become The King

pigking

“Aku akan menjadi seorang raja!” kata babi kecil kepada orangtua nya. Ibu babi tersenyum dan melihat anaknya. “apa yang kamu harapkan menjadi raja, seekor babi?”

“aku tidak peduli” kata babi kecil, “aku akan menjadi raja.” Dan kemudia, babi kecil pergi ke dapur dan membungkus sekotak makan siang untuk dirinya. “Aku pergi” katanya “aku akan pergi untuk menjadi raja.”

“semoga berhasil,” kata ayah babi “segera kembali dan kunjungi kami.”

Dan babi kecil pun meninggalkan rumah, dia berjalan dan berjalan, menyebrangi bukit dan menyusuri lembah. Dan kemudian waktu makan siang tiba. Babi kecil merasa kelaparan, ia pun mencari tempat untuk berhenti dan makan. Tiba-tiba, ia menedengar suara seseorang menangis. Dia melihat ke kanan dan ke kiri. Dan disana, sedikit jauh dari jalan duduklah seorang lelaki tua, menangis.

Babi kecil berjalan ke arah laki-laki tua dan bertanya “permisi pak, mengapa bapa duduk disini dan menangis?”

“aku menangis” kata lelaki tua, “karena aku tersesat dan lapar. Aku berjalan-jalan pagi ini, dan tersesat, dan aku tidak tau jalan pulang. Dan aku sangat sangat lapar dan tidak punya makanan untuk dimakan.”

“babi kecil pun menjawab “aku punya bekal makan siang, dan aku yakin jumlahnya cukup untuk kita berdua. Bapak boleh makan bersamaku.” Babi kecil benar, ada cukup banyak makanan yang cukup untuk mereka berdua, bahkan cukup untuk beberapa orang lagi. Ketika mereka selesai makan, lelaki tua berkata, “aku mau bertanya, Babi, kemana kamu akan pergi?”

“aku akan pergi untuk menjadi raja”’ jawab babi. “Ah”, lelaki tua itu mengangguk “bolehkan aku ikut?”dia bertanya.

“iya, boleh” jawab babi.

Dan mereka berjalan bersama. Mereka berjalan menyebrangi bukit, dan melewati lembah. Kemudian mereka sampai di sebuah sungai. Mereka berjalan sepanjang sungai, mencari jalan untuk menyebrang.

Tiba-tiba, mereka mendengar suara seseorang menangis. Mereka melihat kiri dan kanan. Dan tidak jauh dari jalan, duduklah lelaki tua, menangis dengan pelan.

Babi kecil berjalan mendekati dan bertanya “permisi pa, mengapa duduk disini dan menangis?”

“aku menangis” kata lelaki tua itu, “karena aku kehilangan buku ku. Aku sedang berjalan sepanjang sungai ini, membaca buku dan aku tidak melihat kemana aku berjalan. Aku tersandung sebuah batu dan jatuh, bukuku jatuh kedalam sungai. Aku tidak dapat berenang, dan aku kira aku tidak akan pernah melihat buku ku lagi.”

“aku bisa menolong mu” ujar babi kecil “aku bisa berenang, dan aku akan mengambilkan bukumu. Tunggu disini dengan temanku, dan aku akan segera kembali”

Babi masuk ke sungai. Brrrrrr, airnya dingin! ia mengambil nafas panjang. Dan kembali mengambil nafas panjang. Dan kemudian ia kembali mengambil nafas terpanjang yang ia bisa dan menyelam kedalam dasar sungai. Ia berenang dan nerenang, dan ketika nafasnya hampir habis, ia melihat buku di kejauhan.

Babi kecil berenang kembali ke atas sungai. Ia mengambil nafas yang panjang dan mengambil nafas terpanjang yang ia bisa, bahkan lebih dalam dari sebelumnya, dan ia kembali menyelam ke dasar sungai.

Ia berenang menuju tempat dimana ia melihat buku. Nafasnya hampir habis ketika ia hampir menggapai buku itu. Ia mengambil buku itu dan berenang secepat yang ia bisa untuk kembali ke permukaan sebelu nafasnya habis.

Ia berhasi! Babi kecil berenang ke pinggiran sungai dan naik ke daratan. Ia berjalan ke tempat kedua lelaki tua menunggunya dan memberikan buku itu.

“oh, terimakasih babi kecil”, ucap lelaki tua. “terimakasih ku pastii tidaklah cukup. Tapi  tolong katakan kepadaku, akan pergi kemana dkamu?”

“aku akan pergi untuk menjadi raja” jawab babi.

“Ahh” jawab lelaki tua itu sembari mengangguk. “bolehkah aku ikut?” ia meminta.

“ya boleh”jawab babi.

Dan mereka bertiga berjalan melewati bukit dan menyusuri lembah. Segera saja mereka sampa kedalam hutan yang gelap. Mereka mengambil jalan kecil yang membawa mereka ke pinggiran hutan.

Tiba-tiba, mereka mendengar suara orang menangis. Mereka melihat ke kanan dan ke kiri, berusaha mencari asal suara itu. Dan dsana, tidak jauh dari jalan, duduklah seorang lelaki tua, menangis.

Babi berjalan ke arah lelaki tua itu dan berkata “permisi pak, mengapa bapak duduk dan menangis dsini?”

“aku menangis” kata lelaki tua itu, “karena aku sedang berjalan di pinggir hutan ini dengan anjingku dan sesuatu yang buruk terjadi. Anjingku adalah sahabat terbaikku di dunia ini, dan raksasa muncul dari balik pohon dan mengambil anjingku. Ia berkata akan menjadikan anjingku sebagai sarapannya besok pagi. Sekarang, aku tidak tau apa yang harus dilakukan dan aku pikir aku tidak akan bertemu lagi dengan anjingku”

Itu mengerikan sekali. Babi berkata “tunggu disini dengan kedua temanku. Aku akan melihat apa yang bisa aku lakukan”

Babi berlari ke bagian hutan yang paling dalam dan paling gelap, tempat raksasan hidup. Dan sangat yakin bahwa itu adalah rumah raksasa. Babi mengintip melalui jendela. Ia melihat raksasa ada di rumah, tetapi ia sedang tertidur. Dan di sudut, dalam sebuah kandang, ada anjing itu yang sangat ketakutan.

Babi berjingkat-jingkat ke pintu depan, dan membuka pintu tanpa suara. Dia berjingkat-jingkat lagi kedalam rumah dan menuju kandang. “jangan berisik” ia berbisik pada anjing itu, “aku dsini akan membebaskanmu”.

Babi membuka pintu kandang dengan sangat pelan. Kemudia ia dan anjing itu mengendap-endap ke arah pintu. Ketika sudah diluar mereka lari sekencang yang mereka bisa ke tempat ketiga orang tua tadi.

Tetapi mereka tidak ada dsana!

Babi mencari ke kanan dan ke kiri. Babi pun yakin bahwa ketiga orangtua itu telah lenyap!

Didepan,babi melihat api unggun perkemahan. “mungkin siapapun disana dapat menolongku” katanya pada dirinya sendiri.

Duduk mengelilingi api unggun tampaklah tiga penyihir. “permisi, apakah kalian melihat tiga orang tua?” tanya babi.

“selamat datang Babi” ujar salah satu penyihir. “kami lah tiga orang tua yang kau cari”

“raja telah meninggal dan ia tidak mempunyai pewaris tahta” ucap penyihir kedua.

“maka kami membuat tiga tes, untuk mencari raja berikutnya” lanjut penyihir ketiga.

“ia harus murah hati. Kau dengan murah hati membagi makan siang kepadaku, walaupun aku adalah orang asing” ucap penyihir pertama.

“hai seorang raja harus memiliki sifat berbelas kasih. Kau tidak mengenalku, tetapi kau juga menyelamatkan buku ku, karena tau bahwa buku itu berharga untukku. Ini menunjukkan bahwa kau sangat berbelas kasih” ujar penyihir kedua.

“dan keberanian adalah sebuah keharusan untuk seorang raja” kata penyihir ketiga. “ kau mengambil resiko kehilangan nyawamu untuk orang lain. Kau berani menghadapi raksasa untuk menyelamatkan sahabat baik dari orang yang tidak kamu kenal” kata pnyihir ketiga lagi.

“maka kami setuju” ujar penyihir-penyihir itu. “Kamu akan menjadi raja”.

Dan itulah bagaimana sang babi menjadi seorang raja J

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s